Sabtu, 14 September 2013

KEDUDUKAN GEOGRAFI EKONOMI DALAM KAJIAN GEOGRAFI


Oleh: Imam Arifa’illah Syaiful Huda
Kajian ilmu pengetahuan begitu luas. Ini bisa dilihat pada bebarapa cabang ilmu yang memberikan pembahasan yang lebih mendalam. Dengan adanya cabang-cabang ilmu, maka akan semakin luas pengkajiannya. Tak Cuma itu, pemasalahan yang tadinya bersifat luas, bisa dikaji dengan cabang-cabang ilmu tadi.
Seperti halnya ilmu Geografi. Geografi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dan lingkungan dalam suatu ruang, baik bersifat fisik dan non fisik.  Hubungan antara alam dan lingkungan akan dikaji dalam ilmu geografi. Keterkaitan ini sangatlah erat, karena  manusia akan mempengaruhi alam, begitu juga sebaliknya. Alam akan mempengaruhi manusia. Inilah yang mencirikan dari ilmu geografi. jika hanya mempelajari alam saja, maka tidak bisa dibilang dalam ilmu geografi,  karena tidak adanya suatu keterkaitan antara manusia dan alam.
            Geografi mempunyai pendekatan, prinsip, dan  konsep. Ketiga point tersebut merupakan ciri  dari ilmu geografi yang paling mendasar. Pendekatan dalam ilmu geografi ada 3:
1.      Pendekatan keruangan
2.      Pendekatan ekologi (lingkungan)
3.      Pendekatan kompleks wilayah
pendekatan tersebut akan digunakan dalam menganalisis sebuah masalah, dari sudut manakah masalah itu muncul. Dengan begitu akan lebih mudah dalam menganalisis masalah yang ada.
Point yang ke dua adalah prinsip geografi. Prinsip geografi ada empat bagian.daiantaranya:
1.      Prinsip persebaran
2.      Prinsip interelasi (keterkaitan)
3.      Prinsip deskriptif
4.      Prinsip korologi
Prinsip-prinsip di atas digunakan untuk menganalisis dan mengungkapkan fenomena geografi yang ada di Bumi.
Point yang terakhir adalah konsep geografi. Konsep geografi ada 10 bagian.
1.      Lokasi
2.      Jarak
3.      Keterjangkauan
4.      Morfologi
5.      Pola
6.      Aglomerasi
7.      Nilai kegunaan
8.      Diferensasi area
9.      Interaksi dan interdependensi
10.  Keterkaitan keruangan
Ketiga point tersebut sangat membantu dalam memahami ilmu geografi dan lebih mudah dalam mengkaji suatu masalah, sehingga akan didapat solusi yang sangat baik.
            Ketiga ciri tersebut yang mendasari munculnya cabang-cabang ilmu geografi, salah satunya adalah geografi ekonomi. Geografi ekonomi ini merupakan satu dari sekian banyak cabang ilmu geografi.
            Bagaimanakah kedudukan dari geografi ekonomi dalam kajian geografi?
Geografi  ekonomi merupakan satu kesatuan dari geografi. Letak dari geografi ekonomi ini seperti di dalam tubuh geografi. Seperti apa yang tertera di atas tadi. Bahwa ilmu geografi mengkaji alam dan manusia. Bisa dibilang bahwa geografi mempelajari 50%  IPA dan 50% IPS.
50% IPA ini merupakan pengkajian menganai lingkungan fisik, seperti halnya: tanah, air, udara, tumbuhan, dan batuan. Sedangkan 50% IPS yang mengkaji manusia. Pegakajian manusia inilah yang perlu pembagian yang nantinya dikaitkan dengan alam, sehingga muncul geografi ekonomi. Geografi sosiologi, geografi kependudukan dan demografi.
            Kajian mengenai fenomena fisik dalam geografi akan selalu dikaitkan dengan ekonomi. Sehingga yang pertama dikaji adalah geografi fisiknya, kemudian nanti akan diinterelasikan ke ilmu ekonomi. Bisa dianalogikan seperti menaikan bendera ”geografi” terlebih dahulu,kemudian disusul dengan bendera ”ekonomi”. Bisa dipahami bahwa yang dikaji lebih dulu adalah geografi, kemudian disusul dengan ekonomi.
Dalam ilmu ekonomi, manusia sangat erat kaitanya dengan kebutuhan. Sering didengar bahwa ”kebutuhan manusia tidak terbatas, namun alat pemuas kebutuhan terbatas (SDA). Jika kebutuahan manusia tidak terbatas, dan alat pemuas terbatas, maka akan menimbulkan suatu permasalahan ekonomi. alat pemuas kebutuhan atau sumber daya alam  inilah yang akan menjadi titi kajian geografi ekonomi. Sehingga pengkajian awal dimulai dari alat pemuas kebutuhan manuasia yang terbatas, kemudian dikaitkan dengan ekonomi. Jadi bisa disimpulkan bahwa kedudukan dari geografi ekonomi dalam kajian geografi adalah satu kesatuan yang menitik beratkan pada dua aspek yaitu: aspek fisik dan aspek non fisik.

SIKLUS HIDROLOGI

Oleh: Imam Arifa’illah Syaiful Huda
Siklus adalah putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur. Sedangkan hidrologi adalah air dibumi, kejadian, sirkulasi dan distribusi, sifat-sifat kimia dan fisika dan reaksinya dengan lingkungan, termasuk hubungannya dengan mahkluk hidup. Dapat diambil kesimpulan bahwa siklus hidrologi adalah rangkaian peristiwa yang terjadi mulai dari air saat jatuh ke bumi hingga menguap keudara hingga kemudian jatuh kembali kebumi.
            Proses siklus hidrologi ini dimulai dari peristiwa hujan atau  presipitation, ini didasarkan atas  proses awal  yaitu input, kemudian terjadi  suatu proses yang akhirnya menghasilkan output.  inilah dasar kenapa proses siklus hidrologi dimulai dari presipitasi.
            Pada umumnya, Presipitasi atau hujan yang terjadi  berbentuk air, namun ada juga yang berbentuk es. Fenomena hujan es biasanya terjadi di daerah  lintang tinggi.   Hasil presipitasi  ini jatuh ke tanah sehingga tanah akan basah. Kondisi seperti ini dinamakan surface retention. Surface retention adalah suatu lapisan/filum air yang menyeliputi agregat tanah akibat adanya hujan yang tidak begitu deras, terjadi pada awal hujan.
Proses selanjutnya yaitu infiltrasi. Infiltrasi adalah proses masuknya air ke dalam tanah. Akibat grafitasi bumi sampai zona akar tumbuhan. Jika proses infiltrasi semakin kedalam  lapisan tanah, maka disebut sebagai percolation. Air yang masuk akan menjadi air tanah atau ground water. Proses setelah  infiltrasi tidak bergerak  ke bawah saja, namun bergerakan secara horizontal. Gerakan air secara horizontal akan keluar ke permukaan, sehingga menambah debit air. Pergerakan secara horizontal dipengaruhi oleh topografi wilayah tersebut.
            Sedangkan aliran air yang berada dipermukaan akan mengalir dari daerah yang tinggi ke rendah, seperti sungai, danau, rawa, dan laut yang menjadi tempat persediaan air permukaan bagi semua makhluk hidup. Air yang ada dipermukaan akan terkena panas matahari sehingga terjadi penguapan atau evaporation. Evaporation adalah proses penguapan air karena panas sinar matahari.. Penguapan tidak hanya terjadi pada air saja, namun terjadi pada tumbuhan atau transpiration. Ketika evaporasi dan transpiration, maka akan terjadi proses kondensasi  yang akan menghasilkan  presipitation
            Presipitation akan jatuh ke bunmi dan akan mengenai benda-benda yang ada di sekitar daerah hujan. Termasuk mengenai dedaunan. Proses seperti ini dinamakan interseption. Interseption adalah air hujan yang mengenai tumbuhan. Ketika air dari atas dedaunan itu jatuh ke permukaan tanah, maka disebut sebagai trough fall. Di sisi lain juga terjadi air yang turun melewati rating dan batang-batang pohon secara merambat, proses seperti ini dinamakan steam flow.

Kamis, 12 September 2013

ANALISIS POTENSI BENCANA DI JAWA BARAT




Oleh: Imam Arifa’illah Syaiful Huda (110721435030)

Fisiografi Jawa Barat menurut Van Bemmelen: 1949 terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
1.      Zona Jakarta (Pantai Utara)
Daerah ini terletak di tepi laut Jawa dengan lebar kurang lebih 40 Km terbentang mulai dari Serang sampai ke Cirebon. Sebagian besar tertutupi oleh endapan alluvial.
2.      Zona Bogor
Zona ini membentang mulai dari Rangkasbitung melalui Bogor, Purwakarta, Subang, Sumedang, Kuningan, dan Majalengka. Daerah ini merupakan perbukitan lipatan yang terbentuk dari batuan sedimen tersier laut dalam membentuk suatu antiklonorium.
3.      Zona Bandung
Zona Bandung merupakan daerah gunung api, zona ini merupakan suatu depresi jika dibandingkan dengan zona Bogor dan zona pegunungan selatan yang mengapitnya terlipat pada zaman tersier. Zona Bandung sebagian besar terisi endapan vulkanik muda dari gunung api disekitarnya.
4.      Zona Pegunungan Selatan
Pegunungan selatan (menurut Pennekeok; Zone Selatan) terbentang mulai dari Teluk Pelabuhan Ratu sampai pulau Nusakambangan. Pegunungan selatan telah mengalami pelipatan dan pengangkatan pada zaman miosen. Pegunungan selatan dapat dikatakan plato dengan permukaan batuan miosen atas, tetapi dibeberapa tempat permukaannya tertoreh-toreh dengan kuat sehingga tidak merupakan plato lagi.
Fisiografi Jawa Barat akan mempengaruhi munculnya beberapa bencana alam, seperti tanah longsor, gempa bumi, tsunami, gunung berapi, dan banjir bandang. Sesuai data BNPB Tercatat, 1.241 kejadian bencana yang terjadi dalam kurun waktu 2002-2011. Kekeringan, banjir, dan tanah longsor merupakan yang sangat dominan terjadi. Meskipun demikian, kejadian gempa bumi yang pernah terjadi di provinsi inilah yang menyumbang kerugian terbesar. Kejadian-kejadian bencana tersebut menyebabkan 1.331 orang meninggal dunia, 1.738.043 orang mengungsi dan menderita, 275.770 unit rumah rusak dan hancur, serta 1.196.452 Ha lahan mengalami kerusakan.
Bencana alam geologi yang dominan di Jawa Barat terdapat di bagian selatan. Kondisi topografi yang kasar dan berlereng terjal menyebabkan daerah ini rawan akan tanah longsor. Kondisi geologi batuan yang lepas-lepas dan topografi yang terjal merupakan dua faktor yang sangat dominan dalam proses tanah longsor di Jawa Barat bagian selatan. Ketika hujan turun di atas normal, maka kondisi rawan ini berubah menjadi sangat kritis dan dapat menimbulkan tanah longsor. Daerah Jawa Barat bagian selatan termasuk yang paling rawan terhadap tanah longsor.
Potensi bencana yang kedua yakni gempa bumi. Gempa bumi sebenarnya berkonsentrasi di palung laut sebelah selatan Pulau Jawa. Akan tetapi terdapat beberapa patahan yang melintang memotong Jawa Barat. Pada umumnya daerah patahan ini merupakan daerah yang lemah terhadap kemungkinan terjadinya gempa. Demikian pula gempa yang terjadi pada palung sebelah selatan Jawa Barat dapat merambat ke daratan Jawa Barat sepanjang zona patahan yang lemah. Patahan utama terdapat melintang dari Pelabuhan Ratu ke Sukabumi sampai ke Padalarangan pada arah lebih kurang barat daya - timur laut. Patahan kedua adalah patahan Cilacap - Kuningan yang melalui Tasikmalaya sampai ke Kuningan pada arah tenggara - barat laut. Gempa bumi yang merusak sering terjadi di daerah ini, karena terdapat konsentrasi penduduk di sini, maka gempa bumi sering menimbulkan kerugian harta benda dan hilangnya nyawa manusia. Potensi gempa ini juga memicu terjadinya bencana tsunami, sehingga perlu sikap tanggap terhadap bencana.
Potensi bencana yang selanjutnya di Jawa Barat yakni gunung berapi. Pada bagian tengah dapat ditemukan gunung-gunung berapi aktif seperti Gunung. Salak  (2.211 m), Gede-Pangrango (3.019 m), Ciremai (3.078 m), dan Tangkuban Perahu (2.076).
Daftar Pustaka
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2012. Atlas  Kebencanaan Indonesia 2011, (Online) http://www.bnpb.go.id/  diakses 07 September 2013
Anonim. Tanpa Tahun. Kondisi Fisiografi dan Geologi Regional Jawa Barat. File pdf