Jumat, 01 Februari 2013

PENGKAJIAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI 2004





A.    PENGERTIAN KURIKULUM KBK

Definisi kurikulum yang tercantum dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbununyi: kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. peningkatan iman dan takwa;
b. peningkatan akhlak mulia;
c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. tuntutan dunia kerja;
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. agama;
i. dinamika perkembangan global; dan
j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004, adalah kurikulum dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. Pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas (2002) mendefinisikan bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya.    
Secara materi, sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994, perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas. Dalam kurikulum terdahulu, para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. Sedangkan dalam kurikulum baru ini, para siswa dikondisikan dalam sistem semester. Dahulu pun, para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka, yakni menerima materi dari guru saja. Dalam kurikulum 2004 ini, para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTek tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek. Dan setiap kegiatan siswa ada nilainya.
B.     PARADIGMA PENDIDIKAN BERBASISI KOMPETENSI
Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian, menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada siswa/mahasiswa melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip pengembangan pembelajaran yang mencakup pemilihan materi, strategi, media, penilaian, dan sumber atau bahan pembelajaran. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai siswa/mahasiswa dapat dilihat pada kemampuan siswa/mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikuasai sesuai dengan staniar prosedur tertentu.
C.    IMPLIKASI PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Adanya perubahan yang terjadi di masyarakat dan adanya tuntutan globalisasi, telah menimbulkan beberapa implikasi dalam pengambilan kebijakan terhadap pelaksanaan pendidikan, seperti :
1. Penetapan standar kompetensi peserta didik dan warga belajar.
2. Pengaturan kurikulum nasional.
3. Penilaian hasil belajar secara nasional.
4. Penyusunan pedoman pelaksanaan.
5. Penetapan standar materi pelajaran pokok, penetapan kalender
pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun bagi pendidikan dasar, menengah, dan luar sekolah.
D.    PRINSIP IMPLEMENTASI
Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) telah berjalan sejak tahun 2001 pada beberapa sekolah yang dijadikan mini pilot. Impelementasi KBK merupakan salah satu bagian penting untuk mendapatkan masukan dalam rangka penyempurnan KBK baik dari aspek keterbacaan, keluasan, kedalaman, dan keterlaksanaannya di lapangan. Implementasi yang telah dilakukan tersebut meliputi beberapa prinsip yaitu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM); Penilaian Berbasis kelas; dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah.
E.     POINT-POINT PENTING DALAM KBK 2004
kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada mengeksplorasi kemampuan/potensi peserta didik secara optimal, mengkonstruk apa yang dipelajari dan mengupayakan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kurikulum berbasis kompetensi berupaya mengkondisikan setiap peserta didik agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sehingga proses penyampaiannya harus bersifat kontekstual dengan mempertimbangkan faktor kemampuan, lingkungan, sumber daya, norma, integrasi dan aplikasi berbagai kecakapan kinerja, dengan kata lain KBK berorientasi pada pendekatan konstruktivisme, hal ini terlihat dari ciri-ciri KBK, yaitu:
-           Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal
-           Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman
-          Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi
-          Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar yang lain yang memenuhi unsur edukasi
-          Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Dengan demikian kurikulum berbasis kompetensi ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya. Kurikulum ini dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional. Dengan kurikulum yang dernikian dapat memudahkan guru dalam penyajian pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu: belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar hidup dalam kebersamaan. Oleh karena. itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global. Implikasi pendidikan berbasis kompetensi adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasiskan kompetensi.
F.     Perbandingan KBK dengan kurikulum 1994
Perbedaan mendasar antara Kurikulum 1994 dengan KBK seperti tertera dalam buku Pengelolaan Kurikulum di Tingkat Sekolah (Anonim, Depdiknas 2003) terletak pada penguasaan kompetensi, yakni merupakan gabungan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang dilakukan secara konsisten. Sedangkan kurikulum 1994 meskipun telah menggabungkan ketiga ranah tersebut, tetapi ketiganya belum nampak dilakukan secara bersama-sama dan menjadi kebiasaan berpikir dan bertindak, apalagi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Jadi perbedaan utama keduanya adalah penekanan pada kompetensi dan latihan kompetensi yang dilakukan secara terus menerus, serta pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
G.    KESIMPULAN DAN SARAN
Perubahan kurikulum 1994 ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebenarnya bertujuan perbaikan mutu pendidikan di Indoensia, mengingat dalam KBK berorientasi pada pemberian keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan dengan kata lain bagaimana aplikasi materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Penekanan pembelajaran yang berpusat pada siswa memungkinkan dapat mengeksplorasi potensi siswa secara optimal sehingga tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam undang-undang Sisdiknas dapat terelaisasi. Secara umum KBK mengandung empat komponen dasar yaitu Kurikulum Hasil Belajar, Penilaian Berbasis Kelas, Kegiatan Belajar Mengajar, dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah mempunyai dimensi yang sangat strategis dalam proses pembelajar yang berorientasi pada konstruktivisme.
Bagaimanapun KBK dengan kelebihan dan kekurangannya telah memberikan dasar yang baik bagi terbentuknya kurikulum tingkat satuan pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA

Direktorat pendidikan tinggi islam. http://www.ditpertais.net/swara/warta18-05.asp
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Anonim, 2002. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.




RESUME IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER SECARA TERINTEGRASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN GEOGRAFI DI SMA


oleh: Imam Arifa'illah Syaiful Huda
IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER SECARA TERINTEGRASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN GEOGRAFI DI SMA
OLEH: Mochamad enoh*)
            Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Penanaman nilai tentunya tidak lepas dari peran guru yang berkualitas, yaitu guru yang mempunyai kemampuan administrator, communicator, motivator, evaluator, interactor, dan innovator. Keberhasilan pendidikan karakter bukan tergantung pada kualitas kurikulum, namun tergantung pada apa yang dilakukan guru dan murid dalam kelas.
            Pendidkan karakter bisa masuk dalam semua mata pelajaran sekolah, termasuk salah satunya mata pelajaran geografi.  Integrasi pendidikan karakter dalam proses pembelajaran geografi hendaknya  dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dapat mengadopsi prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning). Kontribusi mata pelajaran geografi dalam pendidikan karakter di SMA/MA sangat tergantung pada guru yang merubah paradigma lama ke  paradigm baru sesuai dengan kurikulum KTSP,  yakni harus terintegrasi dengan Pembelajaran kontekstual. Dengan integrasi seperti itu, maka akan mendukung peningkatan kualitas pendidikan, relevansi, produktivitas, pengembangan jiwa kewirausahaan yang  menghasilkan insan masa depan yang mandiri di daerah masing-masing. Dengan demikian pengintegrasian pendidikan karakter pada mata pelajaran geografi akan mendukung pembangunan wilayah, khususnya pembangunan karakter bangsa, yang menjadi bagian terpenting dari pembangunan manusia seutuhnya.
**) disampaikan dalam seminar ikatan geografi Indonesia (IGI), dan konggres ke IV IGI, tanggal 11-12 Desember 2010, di hotel utami. Jl. Raya duanda-airport, Surabaya, jawa timur
*) tenaga pengajar pada jurusan pendidikan geografi fakultas ilmu sosial universitas negeri Surabaya, instruktur nasional KTSP direktorat kemendiknas Jakarta
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting, sesuai yang tercantum dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3 yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cekap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan di Indonesia yang seharusnya mengantarkan peserta didik menuju pribadi yang baik dan berkarakter ternyata belum berhasil dalam menanamkan pendidikan karakter pada anak bangsa. Kasus tawuran merupakan bukti konkret belum berhasilnya pendikan di Indonesia. Berdasarkan penelitian di Harvard university amerika serikat (ali Ibrahim akbar, 2000), pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) hanya menyumbangkan 20% , namun kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill) menyumbangkan 80% dalam mencapai kesuksesan. Dengan demikian pendidikan karakter sangat penting dalam mencapai kesuksesan dimasa depan.
Kementrian pendidikan nasional telah mengembangkan grand design pendidikan karakter di setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Pengembangan dan implementasi harus mengacu pada olah hati, olah pikir, olah raga, kinestetik, olah rasa dan karsa Pendidikan informal juga memiliki peran dan kontribusi yang besar dalam keberhasilan pendidikan. Ini dibuktikan kalau pendidikan disekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang 30% selebihnya 70% di lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar. Namun kenyataanya pendidikan informal terutama di lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi yang berarti dalam mendukung pencapain kompetensi dan pembentukan karakter. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka diadakannya pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan  kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal disekolah.
B.     TUJUAN
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secarah utuh, terpadu, dan seimbang, sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
C.    SASARAN
Sasaran pendidikan karakter yaitu seluruh sekolah menengah atas (SMA) di Indonesia negeri maupun swasta. Sekolah yang menerapkan pendidikan karakter dengan baik akan menjadi best practices..
D.    INDIKATOR KEBERHASILAN
Indikator keberhasilan pendidikan karakter sebagaimana tercantum dalam standar kompetensi lulusan SMA, sebagai berikut:
1.      Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahapan perkembangan remaja;
2.      Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri
3.      Menunjukan sikap percaya diri
4.      Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
5.      Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi
6.      Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif;
7.      Menunjukan kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
8.      Menunjukan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
9.      menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari
10.  Mendeskripsikan gejala alam dan sosial
11.  Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab
12.  Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan republic Indonesia;
13.  Menghargai karya seni dan budaya nasional
14.  Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
15.  Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
16.  Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
17.  Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan dimasyarakat
18.  Menunjukan kegemaran membaca dan menulis naska pendek sederhana
19.  Menunjukan ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris sederhana;
20.  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah
21.  Memiliki jiwa kewirausahaan

E.     DASAR HUKUM
1.      UUD 1945 Amandemen
2.      UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
3.      Peraturan pemerintahan Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan
4.      Permendiknas No 39 tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan
5.      Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang standar isi
6.      Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan
7.      Rencana pemerintah jangka menengah nasional 2010-2014
8.      Renstra kemendiknas 2010-2014
9.      Renstra direktorat pembinaan smp tahun 2010-2014
II. PENDIDIKAN KARAKTER
            Soft skill merupakan bagian ketrampilan dari seseorang yang lebih bersifat pada kehalusan atau sensitifitas perasaan seseorang terhadap lingkungan disekitarnya. Keabstrakan kondisi tersebut tidak mampu dievaluasi secara tekstual.
A.    Konsep Pendidikan Karakter
Pengertian karakter menurut pusat bahasa depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak. Adapaun berkarakter adalah berkepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak.
Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama (the golden rule). Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di indonesia yaitu pendidikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia untuk membina  generasi muda yang akan datang. Pendidikan karakter di sekolah harus melibatkan semua komponen pendidikan, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Dengan melibatkan komponen tersebut, maka pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah akan semakin baik dan nantinya akan menjadi budaya di sekolah.
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan tuhan yang maha esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hokum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.

B.     NILAI-NILAI KARAKTER
berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM. Telah  teridentifikasi butir-butir nialai yang dikelmpokkan menjadi lima nilai utama yaitu:
1.      Nilai karakter dalam hubungannya dengan tuhan
-          Religious (pikiran, perkataan, dan tindakan berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan)
2.      Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri
-          Jujur, Bertanggung jawab, Bergaya hidup sehat, Disiplin, Kerja keras, Percaya diri, Berjiwa wirausaha, Berfikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, Mandiri, Ingin tahu, Cinta ilmu
3.      Nilai karakter hubungannya dengan sesame
-          Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, Patuh pada aturan-aturan sosial, Menghargai karya dan prestasi orang lain, Santun, dan Demokratis.  
4.      Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan
-          Peduli sosial dan lingkungan (mencega kerusakan dan memperbaiki lingkungan)
5.      Nilai kebangsaan
-          Nasionalis (kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa)
-          Menghargai keberagaman (fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama)
III. PENDIDIKAN KARAKTER SECARA TERPADU DALAM PROSES PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN GEOGRAFI DAN KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN WILAYAH
A.    Pengertian pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran
Pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran merupakan pengenalan nilai-nilai, fasilitas diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun diluar kelas pada semua mata pelajaran.
Dalam implementasi Pendidikan karakter diperlukan guru yang berkualitas untuk membentuk peserta didik yang mempunyai kepribadian yang unggul sesuai dengan 21 indikator keberhasilan.  termasuk dalam mata pelajaran geografi bisa optimal bilamana para guru geografi merubah paradigm lama ke paradigm baru yang terintegrasi dengan pembelajaran kontekstual dan pendidikan karakter. Hanya profil guru yang ideal yang bisa melaksanakan dan menumbuhkan karakter peserta didik dalam pembelajaran geografi .Dengan bekal pendidikan karakter tersebut diharapkan para lulusan akan mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi. Dengan demikian pendidikan karakter yang diintergrasikan dengan mata pelajaran geografi akan mendukung pembangunan wilayah Indonesia, khususnya pembangunan karakter bangsa, yang menjadi bagian terpenting dari pembangunan manusia seutuhnya.
IV. PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER SECARA TERINTEGRASI DI DALAM PROSES PEMBELAJARAN
            Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran dengan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual. Prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut:
1.      Konstruktivisme (constructivism)
Peran peserta didik lebih besar dari pada guru. Peserta didik dituntut menemukan sendiri dengan bimbingan guru.
2.      Bertanya (questioning)
Pertanyaan yang diajikan guru digunakan untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Penggunaan pertanyaan menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi.
3.      Inkuiri (inquiry)
Inkuiri adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan yang muncul. Langkah-langkah kegiatan inkuiri: merumuskan masalah, observasi, menganalisis dan menyajikan hasilnya, mengkomunikasikan atau menyajikan pada pembaca,teman, guru, atau audien yang lain.
4.      Masyarakat belajar (learning comunity)
Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terkait dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Belajar secara bersama juga lebih baik daripada belajar secara individual.
5.      Pemodelan
Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar.
6.      Refleksi
Cara berfikir apa yang telah siswa pelajari dan untuk membantui siswa menggambarkan makna personal siswa sendiri.
7.      Penilaian autentik (authentic assessment)
Siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasinyang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah.
Contoh pembelajaran yang terintegrasi dengan pendidikan karakter.
Kegiatan pembelajaran dari tahapan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.
-          Pendahuluan, guru menyiapkan peserta didik sesuai rancangan pembelajaran. Dan perilaku guru yang baik sebagai sentral contoh dalam pembentukan karakter peserta didik.
-          Inti
Kegiatan inti terbagi menjadi 3 tahap:
·         Eksplorasi: pembelajaran ditekankan pada peserta didik agar  memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dengan melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau dilapangan. Dalam kegiatan ini, Guru memfasilitasi interaksi antar peserta didik dengan perseta didik, lingkungan, dan sumber belajar lainnya.
·         Elaborasi: peserta didik diberi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan serta sikap lebih lanjut melalui sumber-sumber dan kegiatan-kegiatan pembelajaran lainnya sehingga pengetahuan, ketrampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan dalam.
·         Konfirmasi: peserta didik memperoleh umpan balik atas kebenaran, kelayakan, atau keberterimaan dari pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang diperoleh oleh siswa.
-          Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru bersama peserta didik melakukan evaluasi pembelajaran yang telah diselesaikan dan guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Daftar pustaka
Direktorat PSMP.2010. grand design pendidikan karakter. Dirjen manajemen pendidikan dasar dan menengah, depdiknas, Jakarta.
Direktorat PSMP.2010. pembinaan pendidikan karakter disekolah menengah pertama. Dirjen manajemen pendidikan dasar dan menengah, depdiknas, Jakarta.
Direktorat PSMP.2010. pengembangan bahan ajar. Dirjen manajemen pendidikan dasar dan menengah, depdiknas Jakarta.
Depdiknas dirjen dikdasmen direktorat pendidikan menengah umum. 2003. Kurikulum 2004. Pedoman khusus pengembangan silabus dan penilaian mata pelajaran geografi. Jakarta
Mulyasa, E. 2002. Kurikulum berbasis kompetensi. Konsep, karakteristik, dan implementasi. Bandung. PT remaja rosdakarya.
Mochamad enoh. 2004. Profil guru geografi dan pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup (life skill) dalam kurikulum berbasis kompetensi 2004. Makalah seminar nasional himpunan sarjana pendidikan ilmu sosial (HISPISI) daerah sumatra selatan di Palembang, 12 okteber 2004.
Syarifudin, 2004. Pendidikan berbasis kawasan langkah strategi dalam pengembangan pendidikan. Makalah KONASPI V di universitas negeri Surabaya, tanggal 5-9 oktober 2004.